INFO TERKINI – CORONA TAK SEGANAS SARS dan MERS

Masyarakat Tak Perlu Panik dan tetap menjaga Pola Hidup Bersih Sehat (PHBS) yang telah lama di edukasi dan disosialisasi melalui Dinas Kesehatan, Puskesmas, Kelompok Masyarakat (PKK/Kelsi).

YOGYAKARTA – Koordinator tim respons penyebaran virus corona (Covid-19) Universitas Gadjah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad mengatakan, terkonfirmasinya dua warga Indonesia positif virus corona menunjukkan sistem kesehatan Indonesia dinilai cukup mumpuni dalam mendeteksi dan menangani virus ini. Namun di sisi lain menimbulkan kepanikan masyarakat, sehingga memicu beragam tindakan impulsif seperti memborong masker dan barang-barang kebutuhan pokok.

Saat ini pemerintah telah menyiapkan 100 rumah sakit di Indonesia untuk menangani kasus-kasus Covid-19. Untuk itu, dia mengimbau masyarakat untuk tetap tenang menyikapi kejadian ini mengingat Covid-19 bisa dicegah dan fatalitasnya juga rendah.

“Kunci pencegahan penularan virus ini terletak pada perilaku hidup sehat yang sebenarnya telah kerap dikampanyekan sebelum kemunculan virus ini, seperti mencuci tangan, konsumsi makanan sehat, serta olahraga dan istirahat yang cukup,” kata dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM saat konferensi Pers respon Covid-19 di UGM, Selasa (3/3/2020) sore.

Selain itu, di sarikan dari Sindonews.com masker banyak diburu masyarakat karena dianggap sebagai cara paling mudah untuk menangkal penyebaran virus corona. Tak heran, stok masker di pasaran makin menipis karena banyak diborong untuk persediaan. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yulianto Prabowo mengatakan, masih terdapat cara mudah dan efektif untuk mencegah penularan virus corona atau Covid-19. Pola hidup sehat dan rajin cuci tangan tak kalah ampuh untuk menghindari penularan Covid-19.

Dia pun menegaskan, tak semua orang wajib mengenakan masker sebagai langkah pencegahan virus corona. Terlebih di daerah yang relatif aman dari penyebaran virus asal Wuhan, China tersebut. “Kami sampaikan bahwa yang wajib menggunakan masker adalah mereka yang sakit, para tenaga kesehatan yang berhubungan dengan pasien atau mereka yang tinggal di daerah rentan,” kata Yulianto, Selasa (3/3/2020). Masyarakat diimbau tak mudah terpengaruh oleh isu-isu yang berseliweran dan berpotensi meresahkan. Selain itu, juga tak perlu membeli masker dalam jumlah besar-besaran, karena stoknya dipastikan aman.

Masker menjadi barang buruan yang paling dicari dalam beberapa waktu terakhir menyusul adanya dua warga negara Indonesia (WNI) yang positif terinfeksi virus corona. Masyarakat beranggapan bahwa dengan menggunakan masker bisa mencegah penularan virus yang bernama Covid-19.

Apakah anggapan ini benar? Dilansir dari Forbes, dr Eli Perencevich, seorang profesor epidemiologi kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Iowa, Amerika Serikat mengatakan, orang sehat tidak perlu panik apalagi sampai menggunakan masker wajah, masker bedah dan masker N95. “Orang yang sehat tidak membutuhkan masker, dan bahkan tidak seharusnya menggunakan masker,” tegas Ahli Penangkal Infeksi Virus ini menyikapi maraknya penggunaan masker menangkal Coronavirus.

Menurut dr Perencevich, tidak ada faktor yang dapat membuktikan bahwa orang sehat yang menggunakan masker dapat terlindungi dari serangan virus dan infeksi. “Bahkan, mereka yang menggunakan masker dapat meningkatkan infeksi, karena mereka justru lebih sering menyentuh wajah mereka,” ujarnya.

“Jadi, tidak semuanya harus menggunakan masker. Produksi masker memang terbatas, namun untuk Jawa Tengah stoknya aman asalkan digunakan sesuai kebutuhan,” katanya. 

Di Indonesia, menggunakan masker hanya disarankan bagi dua tipe orang sebagaimana disarankan Kementerian Kesehatan di akun Instagram-nya, Senin (2/3). Pertama, tipe seseorang yang sedang sakit atau flu. Kedua, tipe seseorang yang sedang dalam masa pemulihan dari sakit.

“Ketika kita dalam kondisi tersebut, maka kita harus menggunakan masker untuk pencegahan penyebaran virus,” tulis akun Instagram Kemenkes RI.

Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto menjelaskan, berdasarkan keputusan WHO, masker hanya disarankan bagi mereka yang sakit saja, yang sehat tidak perlu memakai masker. “Yang sehat enggak usah pakai (masker). Percuma juga,” katanya sebagaimana dikutip dari Antara.

Dia justru menyarankan orang sehat menjauhi orang sakit agar tidak tertular. “Kalau yang sehat pakai (masker) juga percuma. Dia nanti pegang-pegang, tangannya, dan sebagainya. Tetap saja bisa kena,” katanya.

Adapun, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) berpesan khususnya bagi seseorang yang sakit sebaiknya tetap berada di rumah, menghindari kontak dekat dengan orang lain.

Bagi yang sehat, tidak perlu berlebihan menggunakan masker. Intinya, selalu cuci tangan dengan air dan sabun yang mengandung antiseptik, atau gunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol 60 persen.Hindari menyentuh benda yang kotor dan juga selalu bersihkan benda yang kerap disentuh orang lain.

#Repost dari berita online https://jateng.sindonews.com/read/20767/1/ugm-minta-masyarakat-tidak-panik-covid19-tak-seganas-sars-1583280215 https://jateng.sindonews.com/read/20776/3/pakai-masker-tingkatkan-risiko-kena-covid19-ini-penjelasan-ahli-1583283794 https://jateng.sindonews.com/read/20770/1/tak-semua-orang-wajib-pakai-masker-untuk-hindari-corona-1583280213